samsunisarman' ROAD SHOW PUISI MENOLAK KORUPSI KE 31 di KALIMANTAN SELATAN - Parigal Samsuni
Headlines News :
Home » » ROAD SHOW PUISI MENOLAK KORUPSI KE 31 di KALIMANTAN SELATAN

ROAD SHOW PUISI MENOLAK KORUPSI KE 31 di KALIMANTAN SELATAN

Written By samsuni sarman on Minggu, 02 Agustus 2015 | 00.42

Angin Hangat di kaki Gunung Mandiangin
road show puisi menolak korupsi ke 31 di kalimantan selatan
Pemandangan Sekitar Tempat Acara
Suara desau angin yang kencang di kaki gunung Mandiangin menandai kehadiran laskar penyair Indonesia dalam Road Show Puisi Menolak Korupsi (PMK) ke 31 Tahun 2015 di Kota Pelaihari Kabupaten Tanah Laut Kalimantan Selatan pada Jumat 31 Juli 2015. Angin yang berhawa panas di perbukitan dengan hamparan rumput ilalang seluas mata memandang dan puncak gunung Mandiangin di kejauhan menjadi saksi langkah tegap mahasiswa berjaket merah hati berhimpun di Kampus Politala (Politeknik Negeri Tanah Laut) untuk sebuah pembelajaran seni budaya, khususnya sastra. Mereka dengan senyum bangga dan antusius hadir sejak awal kegiatan - sementara laskar PMK asyik duduk santai menyantap welcome drink - sebungkus nasi kuning iwak haruan dan secangkir kopi hangat setelah menempuh 2 jam perjalanan dari basecamp kota Banjarbaru.

Mengapa Politala?
road show puisi menolak korupsi ke 31 di kalimantan selatan
Direktur Politala - Sihabuddin Chalik
Sebuah kampus dari banyak kampus di Kalimantan Selatan yang baru berusia satu tahun dengan 3 jurusan lifeskill bukan kampus biasa, Direktur Politala, Sihabuddin Chalik menyatakan bahwa akreditasi yang diperoleh adalah B se Kalimantan mengalahkan kampus-kampus sejenis yang sudah lama berdiri. Untuk prestasi itu, Kemendiknas menggelontorkan dana hibah 100 milyar bagi pembangunan lanjutan 2 jurusan terbaru mulai tahun depan. Sukses, ya tentu saja! Apalagi manajemen akademik dikelola oleh putera daerah Tanah Laut sendiri. Dan, apa hubungan dengan PMK. Ternyata kehadiran PMK sangat dinantikan untuk menandai bahwa pelaksanaan pembangunan ini akan bekerja sama dengan institusi anti korupsi sehingga pantas PMK saat ini menjadi pengawal dalam  memperkuat niat bersih dan satu hati menolak korupsi.

Gairah dan Semangat Laskar PMK
road show puisi menolak korupsi ke 31 di kalimantan selatan
Pertukaran Cinderamata PMK dan Politala
Laskar PMK yang hadir seperti Sosiawan Leak (Solo), Wardjito Soeharso (Semarang) Ane Matahari (Jakarta) dan Herman Syahara (Semarang) didampingi laskar PMK Kalimantan Selatan seperti Arsyad Indradi, Ali Syamsuddin Arsy, Aan Setiawan, Trisia Chandra dari Kota Banjarbaru, Samsuni Sarman (Banjarmasin) Rezqi Muhammad Fajar Atmanegara dan Ibrahim (Barabai) Imam Bukhari (Balangan) Magdalena dan Abdul Karim (Tanah Bumbu) dan Jhon Fani (Kota Baru) serta pejabat daerah dan pecinta sastra lainnya berbaur dengan puluhan mahasiswa Politala di bawah tenda tanpa sekat dengan angin pegunungan dan luas mata memandang alam hijau perbukitan. Sangat sederhana namun memiliki keinginan yang kuat dalam memahami dialektika budaya melalui puisi-puisi menolak korupsi yang terhimpun dalam Antologi PMK jilid 4 sebagai primadona acara ini.

road show puisi menolak korupsi ke 31 di kalimantan selatan
Sosiawan Leak 'satu hati tolak korupsi'

road show puisi menolak korupsi ke 31 di kalimantan selatan
Ane Matahari dalam Musikalisasi Puisi
road show puisi menolak korupsi ke 31 di kalimantan selatan
Wardjito Soeharso dalam Keindahan Puisi
road show puisi menolak korupsi ke 31 di kalimantan selatan
Herman Syahara - Puisi Pendek untuk Politala
Acara dimulai dengan seremonial sebuah kampus - lantas mengalir tanpa sadar dengan bait-bait puisi oleh mahasiswa politala dengan musikalisasi puisi karya sendiri yang mendapatkan tepuk tangan riuh undangan. Penyair dari Barabai, Rezqi Muhammad Fajar Atmanegara dan Ibrahim pun melantunkan puisi dengan tarian dayak meratus yang penuh suara mistis balian dan asap dupa. Berikutnya, sang penyair PMK Sosiawan Leak memaparkan sejarah laskar PMK dan terbitnya Antologi PMK saat ini serta menyerahkan buku antologi PMK 4 kepada Direktur Politala dan Ketua DPRD Kab Tala serta menerima cinderamata plakat civitas akademi Politala. Acara pun menjadi akrab setelah sahabat PMK Kalsel seperti Arsyad Indradi, Ali Syamsudin Arsy, Abdul Karim dan Imam Bukhari membaca puisi mereka dihadapan undangan. Tak kalah seru, sahabat PMK dari Jakarta Ane Matahari dengan menenteng gitar tampil di panggung membawakan musikalisasi puisi penyair nasional dan komunikasi yang bersahaja kepada hadirin sehingga saling bersahutan. Mungkin, inilah 'matahari. yang ceria saat tampil di panggung karena seluruh mahasiswa berdiri menyambut larik-larik lagu puitis hingga menyanyi bersama denting gitar yang penuh semangat dan heroik. Ucapan 'satu hati tolak korupsi' nyaring terdengar bersama tepuk tangan dan suara deras angin bertiup diteriakan seluruh undangan - tak satu pun yang diam - para mahasiswa seperti menemukan beat-beat lagu yang pas karena selama ini jarang terdengar larik pemberontakan dan protes sosial. Tak kalah seru, Mas Wardjito Soeharso yang lowprofil ikut terbawa aura bumi borneo lantas membacakan puisi dengan penuh gairah, begitu pula Herman Syahara dengan gaya imaji mistis 'tapung tawar' turut berbaur di panggung membacakan 3 larik puisi pendek sebagai rasa bangga dan terharu pada suasana interaktif warga kampus. Tepuk tangan kembali riuh terdengar setelah Direktur Politala, Sihabuddin Chalik tampil membacakan salah satu puisi dalam antologi PMK 4 begitu pula Ketua DPRD, Ahmad Yani yang ternyata jebolan teater tampil gembira membaca puisi untuk para mahasiswa. Tak terasa, waktu pun berlalu dalam upacara pembukaan ini - seluruh peserta makan siang di kampus dengan 'gangan waluh' dan sambal goreng 'iwak talang karing' dan gorengan ikan patin serta sambal pedas asam manis yang gurih. Kami pun beranjak menuju Masjid Mujahiddin yang tak jauh dari kampus politala untuk menghadapNya.

road show puisi menolak korupsi ke 31 di kalimantan selatan
aksi laskar PMK Kalimantan Selatan
Pengadilan Puisi....?
Tak ada kata kompromi dalam menindak parigal korupsi! itulah yang tergambar pada acara sore hari setelah istirahat siang. Pukul 14.00 wita panggung kembali bersahutan dengan panduan Mas Sosiawan Leak dalam menerjemahkan arti dan makna puisi. Apa sih puisi itu? Bagaimana proses kreatif itu berlangsung? Seluruh laskar PMK berjajar di teras panggung untuk menyampaikan pengalaman menulis puisi - interaksi ini menjadi sebuah nilai-nilai pembelajaran bagi mahasiswa yang ternyata bertambah banyak hadir memenuhi tenda berangin kencang ini. Dan, sekali lagi Ane Matahari menjadi 'matahari' yang segar di panggung bersama denting gitarnya dalam musikalisasi puisi menjawab setiap pertanyaan dan tanggapan. Selanjutnya, oleh Koordinator Road Show ke 31 di Tanah Laut, Agustina Thamrin disampaikan untuk segera menulis puisi kepada seluruh mahasiswa sebagai salah satu interaksi dalam even ini. Mereka pun asyik menulis puisi agar mendapat kriteria terbaik. Sementara, laskar PMK dipanggung juga seru melakukan 'tarung puisi' dengan membacakan puisi-puisi terbaru secara bersamaan. Aku sendiri membacakan puisi '365 hari usia wakil rakyat (ku) yang dipersiapkan untuk antologi PMK memo untuk wakil rakyat. Sahabat Trisia Chandra juga bergembira menyanyikan lagu-lagu kenangan dengan irama pop dan lagu daerah banjar 'baras kuning' sekali lagi diiringi musikus Ane Matahari. Kejutan! ya sebuah kejutan dilempat Presiden PMK Sosiawan Leak tanpa sempat diketahui peserta lomba menulis puisi para mahasiswa. Setelah juri yang terdiri dari Herman Syahara, Wardjito Soeharso, dan Jhon Fani selesai - maka pengadilan puisi atas sang terpilih juara pun dilakukan. Tepuk tangan hadirin menyambut acara kejutan ini. Hakim yang bijak diwakili oleh para juri, kemudian ada saksi yang memberatkan diwakili Ali Syamsuddin Arsy dan Samsuni Sarman serta saksi yang meringankan diwakili Arsyad Indradi dan Imam Bukhari. Sebuah diskusi yang berwawasan sastra dalam bentuk 'debat' pun digelar. Satu persatu mahasiswa yang terpilih menjadi pesakitan atas puisinya tampil di bangku tertuduh. Lantas, saksi pun saling memberi masukan dengan segala pengetahuan dan informasi kesusasteraan, baik yang memberatkan maupun meringankan juga pembelaan dari tertuduh, namun ditangan hakim semua perdebatan dituntaskan dalam sebuah 'ayat-ayat sastra' sehingga pada akhirnya para tertuduh menjadi memahami tentang puisi yang ditulisnya itu. Usai acara sebanyak 5 pesakitan berhasil lolos dan diberikan hadiah buku puisi - sementara laskar PMK tercenung menyaksikan haru-biru pengadilan puisi tadi, Mas Sosiawan Leak selalu berucap senang dan kagum, sementara Mas Wardjito Soeharso dan Herman Syahara berdecak kaget terharu - Abah Arsyad Indradi pun ikut berujar - 30 road show - baru kali ini ada pengadilan puisi yang hebat dan akrab. Sungguh! 

road show puisi menolak korupsi ke 31 di kalimantan selatan

Ramah Tamah Malam 
Seluruh laskar PMK pada acara malam mendapat undangan dari Wakil Bupati Tanah Laut, Bapak Sukamta untuk hadir di rumah dinas dalam perbincangan santai. Banyak cerita dan kegembiraan mewarnai acara ramah tamah ini dengan satu harapan pada bulan Desember 2015 nanti akan digelar kembali di bumi 'tuntung pandang' Tanah Laut yaitu Road Show PMK berikutnya.

Pelaihari, Tanah Laut 31 Juli 2015.
Satu Hati Menolak Korupsi 


Share this article :

6 komentar:

Popular Posts

Coment

Site Map

Loading...
 
Support : Creating Website | Johny Template | Jhonny Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Parigal Samsuni - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template