samsunisarman' JEJAK PUISI pada ARUS SUNGAI JURIAT - Parigal Samsuni
Headlines News :
Home » » JEJAK PUISI pada ARUS SUNGAI JURIAT

JEJAK PUISI pada ARUS SUNGAI JURIAT

Written By samsuni sarman on Selasa, 29 September 2015 | 18.47

Pertunjukan seni yang ditampilkan Sanggar Buluh Marindu dari Kabupaten Hulu Sungai Tengah atau Kota Barabai pada Minggu (27/9) menjadi sebuah jejak puisi yang sangat kuat dalam menapaki arus deras sungai pada karya berikutnya. "Kami adalah pelajar cerdas yang akan menapak masa depan sebagai generasi emas dengan karya-karya sastra" demikian Nanda An Nisa Rezky selaku Ketua Panitia menyampaikan harapannya. Maka, digelar sebuah panggung kesenian dengan tema 'Manajak Batang, Manyusuri Arus Labuan Amas' dengan acara Peluncuran Antologi Puisi 'Sungai Juriat' serta Bedah Buku dan Silaturahmi Sastrawan Kalsel bersama 74 penyair yang menulis karya puisinya dalam antologi tersebut. Kumpulan puisi ini didukung sepenuhnya oleh Pusat Kajian Kebudayaan Banjar (PKKB) dan Penerbit Pustaka Banua sebagai cermin keterlibatan aktif membangun kebersamaan kawula muda menerbitkan karya puisi bagi banua banjar tercinta. Terdapat 74 penyair usia sekolah terpateri kuat dalam kumpulan puisi 'Sungai Juriat' ini yang sebagian besar adalah siswa SMA Negeri 2 Barabai sekaligus wadah berlatih pembinaan Sanggar Buluh Marindu. 

Jejak Puisi pada Arus Sungai Juriat Sanggar Buluh Marindu Barabai
Suanasa Acara Pembukaan
Memasuki wadah acara, setiap pengunjung akan dijemput oleh dara cantik dengan mengalungkan selempang kain dan tepung tawar sebagai tanda selamat datang, kemudian memasuki balai adat dengan mencuci kaki pada kolam yang dikelilingi duri-duri batang pohon manau. Panggung pun bernuansa adat - dengan harum dupa, daun sawang darah, rumbai pucuk nyiur dan anau, serta seperangkat sesajen piduduk lengkap. Acara dimulai pukul 09.30 wita dengan pembacaan kalam ilahi dan lagu Indonesia Raya. Dilanjutkan kata sambutan panitia, Ketua Sanggar Buluh Marindu, dan Pembina Sanggar Rezqie Muhammad AlFajar Atmanegara disusul musikalisasi puisi dengan instrumen musik tradisional panting dan gitar elektrik berjudul 'pada suatu malam di bawah bulan' karya Rahmiyati serta 'lautan duka' hasil olah kerja sanggar buluh marindu. 

Jejak Puisi pada Arus Sungai Juriat
Bedah Buku Puisi 'Sungai Juriat'
Bedah buku antologi puisi 'Sungai Juriat' dipandu oleh He Benyamine dengan menampilkan Helwatin Najwa dan Samsuni Sarman sebagai pembedah yang diundang oleh panitia. Aku mencatat beberapa kajian karya sastra siswa sekolah menengah ini antara lain bangga dan merasa kagum atas apresiasi mereka terhadap lingkungan yang menjadi sarana utama kehidupan masyarakat seperti 'sungai' dengan memadukan pengetahuan sastra di kelas dalam bentuk larik-larik puisi yang indah. Ada keterkejutan penemuan dari diksi, syair, dan idiom serta kosakata yang baru - sebagai awal dari penulisan sastra yang baik. Sebagaimana kutandai pada puisi 'perempuan pembawa cawan hujan' karya Gledis Claudia Maulida (h.21) untuk kategori puisi panjang dan puisi 'kehidupan' karya Shinta Ramadayanti (h.63) sebagai motivasi untuk karya puisi pendek. Kukatakan sebagai pelajar, alangkah bijak jika mencipta karya puisi bukan sekedar mengandalkan kekuatan rasio, tetapi juga nilai-nilai keindahan, rasa kemanusiaan, serta kepekaan rohani. Semua itu sudah terlihat dari larik-larik bersajak dalam kumpulan puisi 'sungai juriat' di samping ada juga romantika bercinta remaja masa sekolah. Membaca kumpulan puisi 'sungai juriat' seperi membalik kisah lama ketika SMA - ada aroma cinta, hasrat, keindahan alam lingkungan sekitar, bukit, dan pegunungan, serta kritik sosial yang cukup menggugah pada banua banjar kita. Ada beberapa istilah pribasa daerah (banjar) atau mantra adat yang masih belum diberikan catatan singkat di bawah karya puisi sebagai penjelas bagi pembaca, misalnya seperti puisi (h.59) yang memiliki footnote istilah basa banjar.

Jejak Puisi pada Arus Sungai Juriat
interaksi dan apresiasi seniman
Acara terus berlanjut dengan sebuah teaterikal puisi berjudul 'kariau terakhir di tanah malai' dengan sutradara Ibrahim Affelay yang menceritakan harapan penduduk suku dayak meratus terhadap tanah adat yang semakin tergerus oleh kemajemukan budaya.Sebagai sebuah ajang silaturahmi sastrawan Kalsel juga mengapresiasi karya-karya puisi 'sungai juriat' seperti Arsyad Indradi, Fahrurraji Asmuni Al-alaby, Imam Bukhori Balangan, Gusti Indra Setyawan, Muhammad Radi, Aan Masih Setiawan, Yulian Manan, Rusdi Fauzi, Asna Sepriawati dan banyak sastrawan lainnya yang merasa senang dan bangga atas kelahiran antologi puisi 'sungai juriat' ini. Usai makan 'nasi kuning' sebagai sajian penutup dialunkan berbagai lagu-lagu banjar dengan penyanyi dan musik tradisional panting.
Inilah jejak puisi sebagai ikatan kenangan semasa sekolah yang telah begitu cantik dirangkai bersama. Salam Sastraku! 

Jejak Puisi pada Arus Sungai Juriat
Photo Bersama Usai Acara

Share this article :

2 komentar:

Popular Posts

Coment

Site Map

Loading...
 
Support : Creating Website | Johny Template | Jhonny Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Parigal Samsuni - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template